Selasa, 10 Januari 2012

 Luke

Belajar dari pohon

1. Pohon tidak makan dari buahnya sendiri.
Untuk hidup / tumbuh, pohon memperoleh makan dari tanah. Semakin dalam akarnya, makin banyak nutrisi yang diserap.


Ini berbicara tentang kedekatan hubungan kita dengan Sang Pencipta sebagai Sumber Kehidupan.

Kenapa buah kurma manis sekali? Pohon kurma itu ditanam di padang pasir. Bijinya ditaruh di kedalaman 2 meter, kemudian ditutup dengan 4 lapisan. Sebelum pohon kurma itu tumbuh, dia berakar begitu dalam sampai kemudian menembus 4 lapisan tersebut dan menghasilkan buah yang manis di tengah padang pasir.

Intinya, kita perlu proses perjuangan yang luar biasa ketika kita menginginkan hasil yang luar biasa pula. Bisakah kita menjadi seperti "pegas" yang memiliki daya dorong kuat ketika ditekan?


2. Pohon tidak tersinggung ketika buahnya dipetik orang.

Kadang kita protes, kenapa kerja keras kita yang menikmati justru orang lain. Inilah prinsip memberi.


Kita ini bukan bekerja untuk hidup, tetapi bekerja untuk memberi buah.

Kita bekerja keras supaya kita dapat memberi lebih banyak kepada orang yang memerlukan, bukan demi diri sendiri.

Cukupkan dirimu dengan apa yang ada padamu; tapi tidak pernah ada kata cukup untuk memberi berkah pada orang lain dengan pemberian kita.


3. Buah yang dihasilkan pohon itu menghasilkan biji, dan biji itu menghasilkan multiplikasi.

Ini bicara tentang bagaimana hidup kita memberi dampak positif terhadap orang lain.


Bila kita menjadi seorang pemimpin..itu bukan masalah posisi/ jabatan, tapi mengenai pengaruh dan inspirasi yang bisa diberikan kepada orang lain.


____

Ulat dan pohon manga

Seekor ulat yang kelaparan terdampar di tanah tandus. Dengan lemas ia menghampiri pohon mangga sambil berkata, "Aku lapar.. Bolehkah aku makan daunmu?"


Pohon mangga menjawab, "Tanah di sini tandus, daunku pun tidak banyak! Apabila kau makan daunku, nanti akan berlubang dan tidak kelihatan cantik lagi. Lalu aku mungkin akan mati kekeringan. Hmmm... tapi baiklah, kau boleh naik dan memakan daunku. Mungkin hujan akan datang dan daunku akan tumbuh kembali."


Ulat naik dan mulai makan daun-daunan. Ia hidup di atas pohon itu sampai menjadi kepompong dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.


"Hai pohon mangga, lihatlah aku sudah menjadi kupu-kupu. :) Terima kasih karena telah mengizinkan aku hidup di tubuhmu. Sebagai balas budi, aku akan membawa serbuk sari hingga bungamu dapat berbuah."


Sahabat yang Luar Biasa!


Dalam hidup kita sering memperhitungkan untung rugi pengorbanan yang dilakukan. "Jika saya memberi, saya akan kekurangan. Bagaimana mengatasinya?" Atau, "Bagaimana kalau ternyata saya ditipu?"


Tapi sadarkah kita, setiap kita memberi, ada sepercik sukacita di hati? Bunda Teresa pernah berkata, "Lakukan apa yang menjadi bagianmu, dan jangan berpikir apa yang akan kita dapat." Bila ingin memberi, ya lakukan saja dengan hati tulus dan ikhlas. Setelah itu, serahkan dan percayakan semuanya pada Sang Maha Pencipta.

Inspirasi si ibu bebek

Suatu hari di tepi sebuah danau tampak ada satu keluarga bebek sedang berjalan-jalan. Mereka terdiri dari ibu bebek dan anak-anak bebek yang mengikuti di belakang si ibu. Anak-anak bebek itu tak henti-hentinya berkwek-kwek sepanjang jalan. Kelihatannya mereka sangat senang.
Namun, tiba-tiba si ibu bebek melihat seekor rubah di kejauhan. Ternyata, suara ceria anak-anak bebek itu agak begitu nyaring, sehingga sang rubah yang juga tengah berjalan-jalan di tengah hutan pun bisa mendengar kwek-kwek mereka.
Begitu melihat bahaya datang, si ibu bebek langsung berteriak ketakutan, "Anak-anak, cepat masuk ke dalam danau. Ada rubah!" Suara ceria anak-anak bebek pun tak terdengar lagi dan mereka bergegas menuju danau.
Ketika anak-anak bebek telah masuk ke dalam air, si ibu bebek berpikir berusaha mencari solusi untuk menjauhkan rubah itu dari anak-anaknya. Seketika itu juga si ibu bebek mendapatkan ide dan segera melukai sayapnya sendiri.
Melihat si ibu bebek, sang rubah terlihat bahagia. "Sepertinya dia sedang terluka dan tidak bisa terbang! Itu berarti aku bisa menangkap dengan mudah. Sebentar lagi aku bisa makan santapan lezat!" Ia pun segera berlari ke arahnya.
Si ibu bebek kian berlari menjauhi danau. Sang rubah mengikutinya. Walaupun dirinya dalam bahaya besar, ada perasaan lega menyelusup hatinya. Ia berhasil membuat sang rubah terkecoh. Itu berarti anak-anaknya sudah bebas dari ancaman maut. Ia berhenti sejenak untuk menarik napas panjang.
Sang rubah berpikir si ibu bebek kelelahan, maka ia datang mendekatinya. Namun, tak disangkanya si ibu bebek langsung melebarkan sayapnya meski yang sebelah terluka dan terbang ke udara. Si ibu bebek mendarat dengan selamat di tengah danau. Anak-anaknya pun berenang ke arahnya dengan wajah sumringah.
Melihat kejadian itu, sang rubah hanya bisa menatap tak percaya pada keluarga bebek itu. Karena mereka berada di tengah danau, ia tak mampu menjangkau mereka.
Melihat cerita di atas, tampak jelas bahwa si ibu bebek sangat menyayangi anak-anaknya. Karena tidak ingin buah hatinya menjadi santapan empuk sang rubah, tanpa pikir panjang si ibu rela mengorbankan dirinya. Betapa beruntungnya anak-anak bebek itu karena memiliki ibu yang punya kasih begitu besar.

Menghargai orang lain

Alkisah, suatu hari, seorang perempuan setengah baya terlihat menggandeng anaknya memasuki sebuah taman besar yang ada di sebuah perkantoran terkenal. Mereka duduk di sebuah bangku panjang. Ibu itu tampak sedang memarahi anak semata wayangnya. Mulutnya tak henti-hentinya mengomel. Tak jauh dari tempat duduk itu, ada seorang kakek tua yang tengah memotong rumput.
Tiba-tiba, ibu mengeluarkan sehelai tisu dari dalam tasnya lalu melemparkannya ke arah orang tua itu. Si kakek terkejut. Ia melirik dengan pandangan heran ke arah ibu itu. Tapi, si ibu malah berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, si kakek pun memungut tisu itu pelan-pelan dan lalu memasukkannya ke dalam tong sampah.
Tak disangka sesaat kemudian, si ibu kembali melemparkan sehelai tisu ke arah si kakek. Sekali lagi, dalam diam si kakek mengambil tisu yang dibuang itu dan memasukkannya ke tong sampah. Si kakek kembali meneruskan pekerjaannya. Namun baru saja si kakek mengambil gunting rumput, untuk ketiga kalinya tisu jatuh di depannya. Si kakek kembali memungutinya dan melemparkan ke tong sampah. Kejadian ini berlangsung hingga 6-7 kali. Meski begitu, si kakek tidak menunjukkan ekspresi marah.
"Nah, coba kau lihat sendiri," ucap ibu itu kepada anaknya sembari menunjuk ke arah si kakek. "Kalau kamu malas belajar, setelah besar nanti kau akan jadi orang tak berguna. Cuma bisa jadi buruh pekerja kasar yang tidak terhormat seperti orang tua itu."
Si kakek dengan tenang melangkah mendekati wanita itu, "Nyonya, tempat ini bukan taman untuk umum. Taman ini cuma diperuntukkan bagi karyawan perusahaan kami. Hanya mereka yang boleh duduk di sini."
"Ya, aku tahu. Aku adalah manajer salah satu departemen di perusahaan ini! Aku kerja di gedung kantor ini."
"Boleh, saya pinjam handphone nyonya?"
Dengan berat hati, wanita itu memberikan ponselnya ke orang tua itu. Sembari melakukan itu, si ibu tak lupa mengajari anaknya, "Lihat kakek miskin ini. Ponsel saja tidak punya. Kamu harus rajin-rajin belajar, agar kelak tidak jadi seperti kakek yang tak berguna ini."
Selesai menelepon, si kakek mengembalikan ponsel itu dengan sopan. Tak lama kemudian, datang seorang lelaki menghadap si kakek dengan penuh hormat. Si kakek berkata, "Sekarang aku putuskan memecat ibu ini dari perusahaan."
"Ya, Pak. Saya akan langsung bereskan."
Lalu si kakek menghampiri anak kecil itu. Sembari mengucap-usap kepalanya, ia berkata, "Nak, aku harap kau mengerti, di dunia ini yang terpenting adalah belajar menghormati orang lain." Setelah berkata begitu, si kakek melangkah perlahan menuju gedung.
Si ibu kaget bukan main dengan kejadian mendadak ini. Ia lalu bertanya kepada lelaki tadi, "Kenapa bersikap penuh hormat kepada tukang kebun itu?"
"Apa, tukang kebun? Beliau adalah presiden direktur kelompok perusahaan ini. Namanya Bapak Mauritz."
Si ibu pun langsung terduduk lunglai di kursi.
 
Pesan Moral Cerita Ini:
Para pembaca, jika kita banyak mengucap syukur, dunia ini akan terasa lebih indah. Dengan menghargai dan menghormati orang lain, kita juga akan memperoleh banyak teman serta menerima cinta, kasih, dan bahagia yang berlimpah.